Kerugian Global Akibat Konflik Iran Tembus Rp 859 Triliun, Pasokan Minyak Mulai Pulih

TEHERAN – Dunia internasional mencatat kerugian ekonomi yang masif akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam kurun waktu hampir 50 hari sejak pecahnya perang yang melibatkan Iran, nilai produksi minyak mentah yang hilang dari pasar global diperkirakan telah melampaui angka US$ 50 miliar atau setara dengan Rp 859.000 triliun (asumsi kurs Rp 17.180 per US$).
Gangguan ini disebut-sebut sebagai salah satu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern, yang dampaknya diprediksi akan terus membayangi stabilitas ekonomi global hingga beberapa tahun ke depan.

Krisis Pasokan Terbesar dalam Sejarah

Berdasarkan data dari lembaga intelijen komoditas Kpler yang dikutip oleh Reuters, sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026, lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat hilang dari perputaran pasar dunia.
Berhentinya aliran produksi ini memicu volatilitas harga energi yang ekstrem di berbagai negara. Para analis memperingatkan bahwa meskipun produksi kembali berjalan, efek domino terhadap inflasi global dan rantai pasokan energi akan tetap terasa dalam jangka menengah hingga panjang.

Sinyal De-eskalasi: Selat Hormuz Kembali Dibuka

Di tengah ketegangan tersebut, secercah harapan muncul pada Jumat (17/4/2026). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengonfirmasi bahwa jalur perdagangan vital dunia, Selat Hormuz, kini telah dibuka kembali untuk pelayaran internasional.
Langkah ini diambil menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, yang sebelumnya menjadi salah satu titik panas pertempuran. Dibukanya kembali jalur ini diharapkan dapat segera memulihkan distribusi minyak mentah ke pasar Asia dan Eropa.

Diplomasi Global dan Pernyataan Donald Trump

Dari sisi diplomasi internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal positif terkait berakhirnya konflik. Trump menyatakan bahwa kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang dengan Iran akan segera tercapai.

“Kami sedang mengupayakan solusi final. Kesepakatan untuk mengakhiri perang ini akan terjadi segera,” ujar Trump, meskipun ia belum memberikan rincian spesifik mengenai garis waktu atau poin-poin kesepakatan tersebut.

Dampak Jangka Panjang

Meski jalur logistik mulai terbuka, para pakar energi tetap memberikan catatan kritis. Pemulihan infrastruktur minyak yang terdampak serangan serta pemulihan kepercayaan investor memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Dunia kini menanti apakah gencatan senjata ini akan menjadi perdamaian permanen atau sekadar jeda sementara di tengah peta politik Timur Tengah yang masih sangat dinamis.
Data Ringkas Kerugian:

  • Total Kerugian Nilai: > US$ 50 Miliar (Rp 859 Triliun).
  • Volume Minyak Hilang: > 500 Juta Barel.
  • Durasi Konflik: ± 50 Hari (Sejak akhir Februari 2026).
  • Kurs Acuan: Rp 17.180 per US$.
Read More Kerugian Global Akibat Konflik Iran Tembus Rp 859 Triliun, Pasokan Minyak Mulai Pulih
Netanyahu Prediksi Gencatan Senjata Iran-AS Segera Berakhir, Dukung Rencana Blokade Trump

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan gencatan senjata yang tengah berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tidak akan bertahan lama. Netanyahu memprediksi ketegangan kedua negara tersebut akan kembali memuncak dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam pertemuan kabinet yang berlangsung di Tel Aviv pada Senin (13/4/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan posisi Israel yang tetap waspada terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dukungan terhadap Donald Trump

Selain mengomentari situasi Iran-AS, Netanyahu secara terbuka memberikan dukungan terhadap pernyataan terbaru dari Donald Trump. Ia menyetujui usulan kebijakan yang dilontarkan Trump untuk melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.

“Langkah tegas diperlukan untuk memastikan keamanan kawasan,” ujar Netanyahu di hadapan para menterinya.

Menurutnya, tekanan ekonomi dan logistik melalui blokade pelabuhan merupakan strategi yang sejalan dengan visi keamanan Israel dalam membatasi ruang gerak pengaruh Iran di kancah internasional.

Situasi Geopolitik yang Memanas

Komentar Netanyahu ini muncul di tengah situasi geopolitik yang dinamis, di mana hubungan antara Washington dan Teheran terus menjadi sorotan dunia. Dukungan Israel terhadap kebijakan blokade yang diusulkan Trump menandakan adanya keselarasan visi antara kepemimpinan Netanyahu dengan kubu Trump terkait penanganan isu nuklir dan militer Iran.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih maupun pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan PM Israel tersebut.